Drama saya yang mengadaptasi legenda asal usul Candi Prambanan, bisa dibilang setengah sukses dan setengah gagal, ha-ha-ha. Mengapa begitu?
Drama yang bertajuk "1001 Candi Primbonan" sukses membuat hampir seluruh pemirsa terpingkal berkat KENATURALAN kami. Itu karena latihan hanya sekedarnya yang menyebabkan banyak adegan yang hilang dan adanya babak yang tertukar, BRAVO! Saya sebagai Roro Jonggrang (yang kemudian diplesetkan menjadi Roro Jingkrak) harus berperan kemayu dengan paras ayu hasil dempulan salon. Hebat kan? Niat sekali sampai cabut tengah sekolah demi ke salon buat make up dan nyewa kostum a-s-l-i adat Jawa yaitu pakaian basahan/ dodotan.
Pakaian itu pula yang berhasil mempermalukan saya karena memperlihatkan sebagian aurat tubuh . Dan karena pakaian itu hanya lilitan kain, sempat kedodoran ketika lawan main saya, Sesa (sebagai Bandeng Bondowoso) mendorong saya ke lantai. Sontak saja pemirsa berteriak "WAAAAAAW...". Gemuruh suara menggema di aula. Mampus sekali saya. Tega kamu, Bandeng!
Agak kecewa sebenarnya dengan drama kemarin karena sayanya sendiri tidak dapat berperan baik secara 100%. Sungguh, peran kemayu itu sulit sekali untuk saya perlihatkan di depan banyak penonton (yang sudah terlanjur mengecap saya sebagai : pecicilan). Maaf Mati Suri, gue bener-bener payah kemarin... Tapi ini kenangan banget ya buat kita, sayang ga ada yang ngerekam : (
Reaksi penonton setelah menonton drama :
"Bagus banget drama kelas lo!",
"Emang deh Mati Suri manteeep",
"Gila, ketawa mulu gua. Dalangnya si Jodi sih!",
"Cul baju lo seksi"
Reaksi saya : "....."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar