Minggu, Maret 29, 2009

Dua Sejoli Lalalala

Lagi-lagi saya akan bercerita tentang kedua orang tua saya. Kemarin, saya dibawa ke Mitra di jatinegara oleh mama saya. Lalu si papa menyusul, berusaha menyalip namun gagal. Si papa menlefon menanyakan keberadaan kami. Saya cuma bisa senderan di bahu mama sambil melihat hebohnya Idola Cilik dan menunggu papa. Beliau nelfon lagi ternyata.

Papa : "KAMU DIMANA SIH? KATANYA LANTAI 5? Aku di deket lift ini"

Mama : "Iya lantai 5, dari lift langsung ke kanan, deket sama bagian anak-anak. Coba dong jalan dulu!" (berjalan menuju arah lift) "Kok kamu ga ada sih? Aku udah di deket lift ini"

Papa : "LOH? Apa nih kok isinya kamar semua?"

Mama : "Aduh pah, kamu pasti salah gedung ya? Yang kamu masukin itu gedung rawat inap tau."

Papa : "Oh iya, yaudah aku kesana"

Si mama kembali mendatangi saya sambil terkekeh menertawakan kebodohan suaminya, padahal selanjutnya beliaulah yang akan melakukan kekonyolan.

Setelah diperiksa, dokter berasumsi bahwa saya terkena dbd, "Iya Cha, siklus dbd itu kan begini-begini... bla-bla... kepastian kamu kena dbd apa enggak ya besok. Kalo positif db ya kamu mondok ya disini. Apa mau dirawat sekarang?"

Hiyah becanda aja nih, ogah ah. Saya memilih istirahat di rumah saja sambil ngobat. Saya duduk tergolek lemas dan mama saya mengambil obat di bagian farmasi. Tiba-tiba mama menghampiri saya.

Mama : "Eiya Cha, kamu lahir 3 September 2002 kan?"

Saya : "....... 1992 mah, itung aja sendiri"

Mama : "OIYA YA. Kalo 2002 kamu masih 7 tahun. SUUUUS SUUS SALAH SUS!" (langsung lari menghampiri suster di farmasi)

Hebat banget emak sendiri lupa ulang tahun anaknya. Jangan-jangan... Aduh apa saya perlu mencari ibu kandung asli lalu menelfon Panda Mandala dan konco-konconya? Ah lupakan.

Minggu-minggu sebelumnya, saya berkunjung ke rumah Eyang bersama mama dan kakak saya. Sudah larut memang untuk bertamu, tapi ini demi titipan eyang yaitu sebuah tungku. Dibel, diketok, diteriakin ga ada yang nyahut. Akhirnya mama menelfon, "Halo Bu? Udah tidur ya? Ini aku udah di depan, mau nganter titipan Ibu." Telfon dimatikan, mama berkomentar "Kok ada yang aneh ya, suaranya Eyang jadi lebih cempreng?"

Kurang lebih 5 menit menunggu, pintu tidak juga dibukakan.

Akhirnya mama memutuskan untuk menelfon lagi. Saat memencet menu dialled calls, yang tertera pada panggilan terakhir adalah RUMAHNYA SENDIRI bukan rumah eyang. Berarti yang ngangkat dengan suara cempreng itu mba saya.

Mama : "ADUH kok bisa ya mama malah nelfon rumah sendiri?"

Yailah mah, pake nanya lagi. Akhirnya mama menelfon rumah eyang dengan benar! Yeay! Bravo buat mama! Tumpengan!

Minggu depannya, papa saya melakukan hal yang sama. Niatnya nelfon eyang malah nelfon rumah. Hebatnya pasangan ini, sungguh kompak.

Ini lucu, tapi saya agak miris juga.

I've just seen old videos from my handycam. I feel so weird now, everybody looks younger including mom and dad, which is there's no wrinkle and no tummy fat or serious diseases. I think they're getting old fast because their jobs. Hwaaaa i hate it. Why i must have old parents before the right time? Sometimes i feel more mature and clever than them. But actually, i'm not ready. I'm not ready to take more care of them. They suppose to be taking care of me much longer...

Love you, mom and dad!

3 komentar:

Serra Annisa mengatakan...

aduh tante rita dan om yoyo, ckckck

Anonim mengatakan...

aduh iya banget.. pengennya mereka muds teruss yaa. aku aja udh umur sgini masih ngerasa butuh mereka... hihi but ur parents are so silly and i think its cute :)

Aisha Sevina mengatakan...

serra : haha masih inget aja ser! gue juga masih inget loh hwekekekek ga penting ya.
cellini : iya setuju banget ka, pengen banget mereka masih terus-terusan ada, muda dan sejalan. tau tuh, makin kesini makin suka ngelucu