Maaf ya kali ini saya sedang sentimentil terhadap sentilan-sentilan yang Tuhan hadirkan pada saya akhir-akhir ini. Mulai dari soal keluarga hingga soal lelaki. Saya bercerita disini karena saya merasa tidak mampu untuk bercerita langsung dan jujur. Dan saya juga belum menemukan figur yang membuat saya menjadi terbuka. Bukannya saya ingin sok menutup-nutupi, namun memang nyatanya saya tidak pernah bisa untuk jujur secara lisan. Melalui tulisanlah saya bisa mengalirkan. Dengan adanya tulisan sejenis ini, mungkin anda akan berpikir bahwa saya minta diperhatikan. Memang, para blogger selalu minta diperhatikan bukan? Untuk apa anda menulis, blogger? Untuk apa anda memasang counter dan follower? Getting attention, right? It's usual things.
Tapi saya menulis ini karena ya itu tadi, tulisan merupakan alternatif saya untuk jujur. Terserah, anda tidak mau memperhatikan juga tidak apa-apa. Langsung scroll bawah saja, skip ini. Terima kasih bila ada yang mau memperhatikan saya dan jari tengah untuk yang sok memperhatikan saya.
Begini, saya muak harus kembali lagi ke titik rendah ini -walau sebenarnya saya hanya menepis bahwa saya keluar dari titik rendah itu, tapi toh ternyata saya masih berputar di sekitarnya. Ibaratnya, saya hanya menduduki perbatasan, tidak keluar dari area itu-
Soal hubungan saya dengan orang tua makin buruk. Saya muak harus menanggung beban sebagai anak emas, harapan ayah ibu. Dulu, ayah saya pernah membuatkan saya tabel perencanaan bagi anaknya, termasuk saya. Dimana hanya saya yang dibuatkan target pendidikan paling sulit, saya direncanakan masuk akselerasi dan lulus kuliah di umur 18 tahun. Lucunya, saya mengangguk mantap. Karena saya selalu dieluk-elukkan di keluarga besar dan selalu rangking, jadi saya merasa bisa untuk melakukan itu. Namun sekarang saya hanya murid sains biasa, pas-pasan malah. Nilai-nilai saya saja sedang terancam.
Dulu, ibu saya pernah meminta agar saya bertingkah laku baik. Contoh pertama, menjadi gadis baik. Nyatanya, saya suka berperilaku kasar sesuka hati dan pulang malam (namun tidak larut). Karena saya suka suasana malam, bukan kehidupan malam yang glamor itu ya. Saya suka saja, menyenangkan bertemu malam. Contoh kedua, berpakaian sopan. Lagi-lagi, saya mengangguk mantap, "Tenang Ma, aku ga akan berpakaian terbuka". Nyatanya, saya lebih nyaman dengan pakaian agak terbuka. Ketiga, saya dilarang pacaran. Nyatanya, saya berpacaran lebih dari lima kali. Keempat, saya diminta untuk berpikir panjang dan menjaga emosi. Nyatanya, berpikir pendek dan emosi tinggi membuat saya 2 kali masuk BK dan sering kali masuk catatan hitam para guru.
Sekarang mereka tahu betapa gagalnya anak emas ini. Tapi saya ingin bilang, "Ma Pa, aku masih di jalan yang benar. Aku tidak merokok, aku tidak minum, aku tidak pergi ke klub, aku tidak berganja. Aku hanya tergelincir. Karena kalian sendiri sebenarnya membuat aku seperti ini. Apakah kalian tahu soal parenting, cara mendidik anak yang benar?"
Saya terlalu menyalahkan mereka? Memang. Saya seperti ini tentu hasil didikan orang tua. Refleksi dari orang tua, yang terlalu banyak menuntut, sedikit mendidik.
Saya pernah membaca quote, "Remaja adalah musuh terbesar orang tua dan begitu pula sebaliknya".
Hmm...
Kemudian soal lelaki. Hari Jum'at kemarin adalah hari kapsul waktu menurut saya. Mengapa?
- Pagi. Sms masuk dari orang yang dua tahun menyayangi saya sebagai pacar dan saya juga menyayangi dia, tapi tidak lebih dari seorang kakak. Dia menanyakan kenapa saya menjauh (lagi). Saya ingin bilang, "Karena aku jadian (lagi)"
- Siang. Saya bertemu dengan mantan saya yang sudah menjanjikan saya segepok sugus.
- Di perjalanan, saya bertemu dengan tetangga saya (sekaligus teman baik kakak saya). Dia dulu sangat baik dan sangaat menjaga saya. Saya sempat tertarik, namun saya menolak dia.
- Malamnya saya online, dua orang yang dulu pernah mendekati saya tiba-tiba menyapa. Yang satu bertanya soal kabar lewat rekaman suara dan yang satu lagi menanyakan status saya.
- Di Facebook, orang yang dekat dengan saya dulu, tiba-tiba memberikan wall lagi.
Orang-orang masa lalu saya kembali muncul dalam satu hari. Mengingatkan saya pada memori. Sedangkan orang yang saya harapkan bisa bersama saya terus sampai di masa depan, hilang. Saya mengecilkan 5 hal di atas demi bersama satu orang ini. Tapi sekarang dia menjauh, saya takut ternyata dia adalah karma. Karma, karena saya mengecilkan arti, menyakiti dan meninggalkan 5 hal di atas. Saya takut, sungguh.
"Aku mohon tetap disini, jangan berubah atau berpindah"
2 komentar:
jangan, jangan masuk titik rendah lagi, cul :(
cul, lo lagi diuji. rela cul kalah sama ujian? sabar, jangan gegabah, dan jangan memasukan energi negatif ke diri lo. ingat, tetap ada kami disamping mu cul. tenang semuanya pasti berlalu.
Posting Komentar