Good or better? It was really amazing! A-M-A-Z-I-N-G! Even the story was a little bit ridiculous and the effect was too much i think, but still i give all my thumbs up!
Dimulai dengan hari-hari sepi seperti sebelumnya. Saya bangun dengan bingung. Hari ini saya bertugas Cakrawala apa tidak. Iya, tidak, iya tidak. Saya sms sang ketua, tak kunjung dibalas. Saya lewati saja dengan bermain komputer dan menonton dvd (terima kasih untuk Vivian yang meninggalkan beberapa dvd di rumah saya).
DRRRTT. Handphone saya bergetar. "Halo? Oh sekarang? Gue belom mandi tapi. Yaudah gue kesana 20 menit lagi."
Ternyata Brenda menyuruh saya untuk bertugas bersama Dinar ke Provoke!. Sekali lagi saya membawa kabur mobil sang Ayah. Jemput Dinar, lalu jemput Yusa, Dimo dan Ola. Gila kan udah kayak layanan antar jemput. Berangkatlah kami ke kantor majalah ciamik itu di daerah Panglima Polim. Rekan Provoke! hanya menunggu kami sampai jam 7 malam dan saat itu sudah jam 6. Sialnya, saya terjebak macet.
"Oh Jakarta, tidakkah kalian muak dengan padatnya jalan raya? Jikalau muak, mengapa masih saja?"
Hopeless and useless. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang karena sudah pada ditelfon Emak kecuali saya (ga mungkin kan Bundo Padang saya merelakan pulsa dari Eropa ke Jakarta?). Setelah mengantar orang-orang, saya kembali bingung. Nothing to-do, tapi di benak saya masih mengganjal Transformer. Saya kontak semua teman saya yang memungkinkan bisa diajak keluar. Hasilnya? Negatif.
Dan satu pikiran mulai merasuk, "Apa saya pergi sendiri saja?"
Positif, saya langsung memacu si Swift.
Karena terlalu lelah, saya memutuskan pergi ke tempat dekat saja yaitu Mal Metropolitan yang paling oke di Bekasi sana. Bodo deh, yang penting nontoooon!
Saya langsung bergegas, melewati Gramedia niatnya ingin membeli novel tapi gerbangnya sudah ditutup setengah. Sampai di bioskop ternyata semua film sudah main semua di jam terakhir, payahnya. Saya mendadak lesu.
Teringat teknologi, saya coba browsing jadwal film melalui handphone di Mega Bekasi (seberang MM). Dan Transformer masih ada yang jam setengah 11 disana. Thank God and God bless technology!
Lari-lari dah tuh kayak orang dongo. Ngelewatin toko-toko tutup, lorong sepi, nyebrang jalan raya, sempet nyasar pula. Senang luar biasa ketika melihat cahaya kuning dari XXI. Saya dapat kursi paling pojok di dua baris paling depan (U-4), keinginan saya jadi makin bulat untuk segera reflexi setelah ini.
Saya terduduk di bawah dekat dengan sebuah keluarga yang bertajuk "happy family" biar dikira saya ga menunggu sendirian. Sambil membunuh waktu, saya memutar lagu dan smsan. Tak lama, pulsa habis. Saya berusaha tidur.
Studio 1 dibuka, saya excited masuk. Sebaris saya jantan semua, sempet agak risih juga. Film dimulai, risih saya memudar. Tak berhentinya saya nganga dan membetulkan leher.
Tapi risih saya kembali muncul ketika 2 lelaki di samping saya agaknya saling berdempetan. Yang satu kemudian menyenderkan kepala dan yang satunya lagi menaruh lengannya di lutut yang lainnya. Saya masih berasumsi, mungkin saja mereka bersaudara. Kembali saya ternganga dengan Shia LaBeouf dan Megan Fox. I really do adore them, especially Shia of course.
Adegan berlanjut, si Sam dan Mikela sedang berdua memadu kasih. Dimana semestinya saya mupeng dengan adegan tersebut, malah saya jadi jijik akibat dua lelaki samping saya.
Lelaki samping kiri saya : "Ih sexy ya si ceweknya"
Lelaki di sampingnya lagi : "Iya, kayak kamu." (makin merapat dan mengelus kepala yang satunya)
SHIT! THEY'RE HOMO, DEFINITELY MAHO!
Could you imagine that? Watching a great movie with a "great-couple" beside you?
Saya berdoa agar yang saya tonton adalah benar Transformer, bukan film porno antar homo. Saya sempat coba hiraukan, tapi tetap saja tidak bisa karena saya hanya berjarak sekitar 20 cm dari pasangan tanda kiamat itu. Maaf ya bagi homo yang membaca ini, saya masih tidak bisa menerima status anda.
Saat Optimus Primenya mati, saya hampir menangis padahal saya tau dia akan hidup lagi. Tapi itu menyentuh sekali. Dan sekali lagi, samping saya makin saling sentuh-sentuhan.
Pas pulang, saya kembali melewati lorong gelap, nyasar malah ke parkiran motor, sempet digodain mas-mas gitu karena sendirian, akhirnya saya menelusup di antara kerumunan lalu menyeberang ke MM lagi.
Pulang dengan kecepatan hebat! Saya menembus 100 km/jam dan saya bangga luar biasa haha. Saya sempat berhenti di jembatan, sejenak memandangi jalan tol yang berada di bawah. Menikmati deru angin mengelus pelan rupa saya, membelai rambut saya, dan menggetarkan gigi-gigi saya. Hanya aku dan Swift di tengah jembatan, di bawah lampu kuning. It was so peacefully.
Memandangi mobil, ah banyak sekali baret. Hari ini saya menyenggol 1 motor, hampir menabrak 1 pria dan sedikit menubruk 1 tiang gedung parkir. Mama Papa besok pulang, membawa banyak oleh-oleh untuk saya yang sudah menjadi anak nakal selama ditinggal. Do'akan supaya saya tidak terlalu dimarahi ya...
"Sorry Mom Dad, i just too determined. Have a nice flight and hope you won't get jetlag"

3 komentar:
mwhha . homo ?!?
parah parahh .
=))
iya homo, H-O-M-O! haha, stres banget itu nontonnya
this is very exciting movie....
Posting Komentar