Kamis, Agustus 13, 2009

030992, Lagi!

Ya ya, saya terkena sindrom tahunan lagi. Sindrom menjelang tanggal 3 September, ulang tahun saya. Uring-uringan seperti orang idiot, memikirkan apakah hari ulang tahun saya esok akan menyenangkan apa tidak.

Ketika kata-kata “ulang tahun” terbesit di benak, yang saya tau hanyalah rasa senang dan terima kado beserta ucapan selamat. Saya merasakan kesenangan itu hanya sewaktu TK sampai kelas 4 SD. Berhenti, di umur saya yang ke-9. Berhenti, ketika saya merayakannya di sebuah restoran cepat saji ternama. Hanya karena pada zaman itu merayakan ulang tahun di restoran dianggap tren dan penting untuk pergaulan anak-anak, saya merayakannya. Gengsi, adalah kata yang lebih cocok.

Berawal dari itulah, saya menarik keluarga saya untuk repot membuat acara itu. Mulai dari tempat, pakaian dan kue. Excited luar biasa. Apalagi ketika menjelang hari H, ketika semua sudah pasti dan undangan “tiada kesan tanpa kehadiranmu” sudah tersebar ke seluruh anak kelas, saya panik luar biasa. Saat hari H, saya terlambat sekitar 10 menit dan ternyata beberapa teman saya sudah berkumpul disana. Kasihannya.

Saya mengenakan dress abu-abu selutut berornamen Hello Kitty lengkap dengan bandonya dan duduk menunggu tamu. Satu per satu datang membawa bungkusan kado. Saya senangnya bukan main, dua meja besar penuh dengan kado dalam waktu cepat. Lalu teman-teman sekelas saya duduk rapi dengan topinya masing-masing sambil menyanyikan lagu ulang tahun. Waktunya tiup lilin! Saya yang semestinya di tengah kue tiba-tiba harus berdesakan dengan mereka. Beberapa teman sudah mencolek kue besar itu, padahal saya belum meniup lilin bahkan membuat harapan.Tiba waktu makan, hampir semua teman saya sekejap terlihat seperti kaum papa (dhuafa). Mereka sudah siap mengantri dan saling serobot untuk seporsi makanan cepat saji murahan itu. Selesai makan, mereka pulang. Kaboom, seketika ruangan itu sepi bersisa kado. Suasana berubah kelabu, seperti gaun saya.

Kemudian saya membuka kado-kado itu. Saya terkejut, ada beberapa yang memberikan barang bekas mereka. Seketika saya sedih dan termenung. Kenapa mereka begitu? Datang, memberi kado, mengantri makanan, lalu beranjak pergi? Untuk apa saya mengundang mereka? Cih.

Lalu saya bertemu tanggal 3 September di tahun-tahun berikutnya, kesenangan itu sudah tidak ada. Mengulang tahun dalam ulang tahun saya terkesan hambar. Mungkin itulah awal sindrom tahunan saya. Tapi beberapa tahun belakangan makin menjadi. Kejutan-kejutan dari teman-teman saya tidak pernah sepenuhnya membuat saya tenang. Pernah, saya diberi surprise oleh teman SMP saya di umur ke-15. Di saat kami baru masuk SMA. Sehabis reuni, 7 orang teman saya memberikan lantunan lagu ulang tahun dan sebuah kue. Seharusnya kami bersembilan tapi yang ada hanya berdelapan yang memakan kue itu. Yang satu lagi? Melenggang lewat di depan kami seraya beralasan : “Sori gue ada les”. Padahal dia satu tempat les dengan saya dan waktu masuknya masih sekitar setengah jam lagi.

Tahun berikutnya, saya mendapatkan kejutan dari teman SMA saya. I’m happy and i do really appreciate that! But still... i can’t get off from this feeling. Saya makin memikirkan hal-hal aneh, berapa orang yang peduli denganmu di tanggal 3 ini, Aisha? Apa arti ulang tahun tersebut sebenarnya? Apa yang akan saya lakukan setahun ke depan? Apa yang sudah saya lakukan setahun kemarin? Banyak kesempatan terlewat, banyak yang saya sesali.

Kini, orang tua saya meminta ulang tahun saya yang ke-17 dirayakan. Kira-kira seperti ini debatnya.
Mama : “Cha, gimana kalo dirayain? Apa kita undang yatim piatu aja kayak dulu? Eh tapi repot deng kalo ngundang yatim piatu pas buka puasa gitu, kan kasian malem pulangnya.”
Saya : “Traktiran biasa aja deh ma. Males kayak gitu, repot loh.”
Mama : “Kamu paling ngajaknya cuma yang itu-itu doang, kasian nanti temen kamu yang ga ditraktir.”
Papa : “Iya, rayainnya sepanjang jalan Sabang food center itu aja Cul”
You’ve got to be kidding me! Especially you, Dad.
Saya masih berargumen dan mama langsung mengambil keputusan bahwa kami akan mengurusinya mulai hari Minggu besok.

Saya ketakutan. Ini mendekati 17, tu-juh-be-las. Bukan seperti 8 tahun yang lalu. Pesta ulang tahun sedang marak lagi dan haruskah saya merayakannya? Jikalau iya, berarti saya harus mencari tempat yang lebih dari sekedar restoran cepat saji murahan, mencari gaun yang lebih dewasa dari gaun “Hello Kitty”, mengurus kartu undangan yang lebih simpel tanpa ada kalimat “tiada kesan tanpa kehadiranmu” dan mengundang tamu lebih banyak dari satu kelas. Repot.

Itu berarti juga saya harus melihat diri saya berubah dalam sentuhan feminisme, sepatu tinggi, pakaian manis dan bahan kimiawi di wajah alias makeup. Lalu saya akan melihat diri saya dipeluk dan dikecup oleh rekan dan tentu saja orang tua. Menatap mata kedua orang tua saya, seraya mereka bilang “You’re our girl, Aisha. Now you’re 17th, make us proud. Dan selamat sudah bisa berurusan dengan kecamatan”. Kemudian saya harus melihat diri saya berdiri di depan kue besar bertancapkan lilin berangka 17 dan bertuliskan “Happy Birthday, Aisha Sevina” diiringi nyanyian lagu oleh para tamu. Apakah saya akan merasa senang pada malam itu sesuai dengan tulisan kue? Apakah saya senang dengan perayaan ini?

Apa yang saya rayakan? Merayakan kematangan umur, mental dan fisik saya? Atau merayakan berkurangnya waktu saya di dunia bersama para tamu yang prihatin? Kenapa harus dirayakan? Should i do this, Mom?
Kalau pun harus, baiklah saya segera menyusun tema. Terkesan naif-kah? Ya, maklum saja saya belum sepenuhnya dewasa dan tidak terlalu mengerti dengan setiap kata, termasuk "ulang tahun".

Saya tadinya merasa angka 17 itu biasa saja, tapi makin kesini kok saya makin ingin 17 ada sesuatu yang lebih bermakna ya? Saya berharap ini saja deh, haha.
- 1 handphone baru, yang lama rusak soalnya. Dasar Nokia, dibanting aja langsung pingsan.
- Dikasih suprise oleh orang-orang yang bersedia dan yang udah terlanjur kepelet untuk sayang sama saya.
- Saya harap kesedian hadirnya Irvin Aldianto, Philosophia dan Firman Budiman di ulang tahun saya nanti.
- Ohya, kue oreo besar untuk saya sendiri. Hanya perlu ditiup lilinnya, tidak perlu dibagi, akan menjadi pilihan bagus.
- Kado, berseni.
- A baby owl! Burung hantu burung hantu! Atau apa pun yang berbentuk atau ada burung hantunya!
- Menjadi orang dewasa, punya KTP dan KTM ITB.

Amin.


Image and video hosting by TinyPic

Tidak ada komentar: