Oh ya, kehidupan saya sebagai senior sekarang agaknya mengenaskan, mengesalkan. Baru saja masuk, banyak yang sudah membawa buku pelajaran tahun lalu, guna memperbaiki hasil dari cuti setahun (kelas 11). Lah saya?
Munculah "geeky and nerdy style" yang sangat trendi sekarang. Bertas besar dan bermuatan banyak adalah penampilan paling chic. Semakin banyak tentengan di tangan, maka kamyu makin terlihat trendi dan chic.
Lalu, tema obrolan terhangat adalah : "Mau masuk fakultas dan univeristas mana?". Sebagian lebih angkatan saya, sudah memutuskan fakultas apa yang dituju. Lah saya?
Dari obrolan terhangat itulah, dapat diketahui mana yang akan menjadi teman dan mana yang akan menjadi rival (karena tujuan fakultas yang sama). Dapat diketahui juga mana anak ipa sejati dan mana anak-ipa-buangan-yang-sudah-muak-dengan-rumus. Sebagian anak ipa yang menyesal itu, sudah paten memilih bidang ips. Anak ips-nya? Marah dan bersikap sinis terhadap anak ipa yang mereka sebut "ipa buangan" itu karena dianggap memperkecil peluang mereka.
Iya iya saya tau, masuk PTN itu sulit dan harus usaha keras. Tapi tidakkah bisa kondisi ini menjadi lebih nyaman sedikit? Kompetisi tidak sehat mulai terjadi berkat egoisme mendominasi, apa-apaan ini? Saya marah dengan keadaaan ini.
Kesal. Akhirnya, saya mematenkan pilihan baru-baru ini. Yaa setelah berdebat cukup lama dengan orang tua karena lagi-lagi saya tidak bisa menentukan kemana jalan pendidikan saya. Saya sebenarnya ingin FSRD, FIKOM atau FISIP. Saya juga ingin broadcast, jurnalistik, periklanan, filsafat atau apalah itu yang sepertinya menyenangkan tanpa ada rumus. Saya frustasi menjadi orang ipa.
Orang tua saya bersikeras, "Itu semua masih bisa diasah dengan kursus, sedangkan ini menyangkut pendidikan formal dan masa depan kamu. Mengapa tidak teknik, atau arsitektur mungkin? Atau seperti cita-cita kecilmu, dokter? Bakatmu disana."
Ha-ha-ha, saya ingin tertawa histeris dengan komedi ini. Baiklah, mungkin ada benarnya juga. Saya sudah terlanjur ipa dan untuk apa saya membuang 2 tahun IPA saya untuk jurusan non-ipa? Tanggung kan? Jadi saya pikir, saya teruskan saja persahabatan dengan rumus-rumus itu, dengan kalkulator scientific itu, dengan buku-buku Bob Foster & Marthen Kanginan itu.
Saya pilih Teknik ITB dan saya sedang berusaha. Do'akan lah bahwa bangku masa depan saya di sana!
Saya lagi mau cerewet ah, kesel sih.
Begini, saya menjadi panitia buku tahunan dan malam keakraban. Rapat angkatan digelar, saya menjadi wakil ketua buku tahunan atawa "penanggung jawab urusan : bagus atau tidaknya buku tahunan yang sewaktu-waktu saya bisa digorok jika hasil BT-nya buruk". Saya sebenarnya tipikal yang sangat senang dengan penawaran jasa, membuat orang lain senang itu impian saya. Membuat buku tahunan benar-benar menjadi sebuah kenangan bagi angkatan "Emperor", adalah impian saya kali ini.
Soal malam keakraban banyak yang ingin menjadikannya sebagai prom nite saja. Saya sebenarnya terserah saja, tapi saya tidak mau kalo prom nite yang diadakan harus setara dengan orang kawinan. Saya hanya ingin pesta perpisahan muda mudi angkatan yang sederhana namun elegan dan kekeluargaan. Tapi beberapa orang langsung antusias menjadi panitia prom nite. Loh loh apa-apaan ini? Saya tau mereka ingin kemewahan di malam itu. Ah malas, terserah sajalah!
Saya kesal. Hal-hal di atas membuat saya hampir terjerumus dalam dunia datar lagi. Angkatan saya yang begini, angkatan saya yang begitu. Huff...
Ditambah lagi kemarin-kemarin saat orasi pemilihan ketua OSIS angkatan bawah. Saya rasa angkatan saya berubah menjadi menyeramkan. Ya, saya tau angkatan bawah perlu digembleng lebih, agar ke depannya juga lebih baik. Tapi pikiran kritis angkatan saya yang traumatik itu... terkesan elegi balas dendam, aah entahlah. Pikiran saya memang sama dengan mereka, tapi tidak seekstrim itu.
Saya kesal, saya kesal.
Saya semakin merasa ditarik ke dalam dunia hambar lagi. Ketika bercanda dengan beberapa orang, saya sempat terucap kata "Sahabat". Refleks.
Padahal seumur-umur saya baru menggunakan kata itu 2 kali dan menyesal. Karena saya menganggap kata itu sakral, saya hanya ingin menggunakannya di saat saya benar-benar menemukan arti kata tersebut (kecuali dalam konteks bercanda ya).
Lalu apa tanggapannya ketika saya keceplosan mengeluarkan kata itu?
"Hah? Sahabat?" disusul tawa kencang olehnya. Kemudian disusul rasa sakit oleh saya.
Saya kesal sekali karena tidak bisa datang Java Rockin'land (bagi yang datang, mohon jangan dibahas), ga bisa dateng ke pameran teman, ga bisa dateng ke acara teman dan ga bisa menikmati malam minggu normal.
Saya juga kesal, lagi-lagi orang yang paling saya sayang adalah orang yang paling mampu melukai saya. Beberapa orang berlomba untuk mendapatkan saya, padahal saya tau pada akhirnya mereka berlomba menyakiti saya. (Terkesan sombong kah? Baiklah, anggap saja ini lelucon. Saya tidak selaku itu kok)
Sekali lagi, saya kesal, saya kesal dan saya kesal!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar