This's the part. 3rd grade. The last part of my high school.
Prosedur akhir yang kejam. Betapa tidak? Jadwal menuju kelulusan berurutan dengan jadwal ujian masuk PTN.
22-26 Maret 2010 : UJIAN NASIONAL
27-28 Maret 2010 : USMD ITB
11 April 2010 : SIMAK UI
24 April 2010 : SMUP UNPAD
Lalu minggu depannya langsung disambit dengan ujian sekolah dan praktek.
Dan kalian tau kan selama jadwal-jadwal ini berlangsung, beberapa artis luar negeri sedang melancong kesini?
Saya melewatkan Kings Of Convenience, Jens Lekman, Camera Obscura, dan Imogen Heap (tentu saya tidak berniat menonton ini semua, hanya saja dari beberapa peluang yang ada tersebut, masa saya tidak bisa menonton satu pun? Dan ironisnya, ini semua karena alasan akademis. Semoga Copeland pada Mei mendatang, saya bisa hadir!)
Jahat ya?
Atau saya yang terkesan mencari pembelaan? Ya, coba saja kalau menjadi seperti saya sekarang, era kini.
Kadang terlintas pikiran untuk melepaskan beberapa peledak di gedung Depdiknas (atau sekarang yang sudah diganti menjadi Kemendiknas). Tapi sayangnya saya tidak mau disangka gembong teroris.
Kadang juga terlintas, saya akan memusnahkan keberadaan Ujian Nasional kelak. Toh untuk apa? Sekedar menguji? Pemetaan pendidikan? Atau sekedar penyiksaan? (Ha-ha-ha)
Pendidikan belum merata, fasilitas tidak menunjang dimana-mana, tenaga pendidik juga masih kurang, kenapa juga kelulusan ditentukan melalui jalur nasional?
Saya menjalani 3 tahun di SMA, kenapa juga pengakhiran masa SMA ini melalui tes 5 hari?
Belom lagi masalah "bocoran". Membuat UN dan anggaran pendidikan makin percuma.
Omong-omong soal kebocoran, saya tergoda sekali untuk menggunakannya apalagi berhubung UN ini berdekatan dengan tes ITB. Tapi sedikit sekali dari angkatan saya yang berniat sama, mungkin tidak sampai 20 orang dari jurusan IPA. Saya bercerita ke teman-teman saya yang dari sekolah lain mengenai hal ini. Tanggapan mereka adalah:
"Masa? SMA unggulan ternama aja make, masa sekolah lo enggak?"
"Sok suci banget angkatan lo. Naif."
Lalu mereka bercerita perihal perilaku angkatan mereka menghadapi UN. Hebat sekali loh, sekolah-sekolah mereka sepertinya sudah mantap dengan sumber bocoran mereka, pelaksanaan mereka rapi, bahkan sebelumnya ada yang sudah melakukan simulasi. Seolah mereka berprinsip, untuk terakhir kalinya angkatan mereka harus kompak. Masuk bersama, keluar juga harus sama-sama.
(hela nafas)
Kini saya tidak tau apa yang saya rasakan, tidak tau harus bagaimana. Konsentrasi saya terbelah antara persiapan UN dan ITB. Di saat melelahkan ini, saya seolah makin dijatuhkan dengan berita bahwa saya tidak diterima di NUS, Singapur. Saya sempat "jatuh", tapi kini saya mencoba ikhlas. Kalo kata orang-orang, "Mungkin memang bukan jalannya.", "Mungkin takdir lo di tempat lain."
Ingin sekali rasanya saya menyanggah. Jangan hibur saya seperti itu. Tau darimana kalo itu bukan jalannya? Memangnya siapa yang tau soal takdir, selain Sang Pencipta?
Saya masih menganggap, mungkin saja bila saya berusaha lebih keras lagi, saya bisa diterima. Dan saya pikir, yang membuat takdir toh dari usaha kita juga. Karena Tuhan melihat, kemudian pada akhirnya Tuhan jugalah yang mempertimbangkan jalan mana yang pantas untuk hamba-Nya.
Itu rahasia Tuhan, untuk apa orang-orang itu sok tau?
Mereka bisa saja berkata seperti itu ketika saya sudah tau jalan saya.
Saya itu hanya belum tau jalan yang mana yang hendak Ia rencanakan untuk saya, mengerti?
Cheer me up and good luck 2010,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar