Rabu, April 14, 2010

Ibaratnya: Kalah Sementara dan Kemenangan yang Tertunda

Siang itu, saya keluar kelas dengan segenap hati yang lega karena UAS (Ujian Akhir Sekolah) sudah usai. Tapi baru saja saya menyusuri koridor yang sesak dengan murid lainnya itu, saya dikejutkan sesuatu: beberapa orang tertunduk lemas. Saya bertanya, ada apa?
Voila. Ternyata pengumuman ITB yang seharusnya jatuh di tanggal 15 April, dicepatkan sehari menjadi tanggal 14 pukul 3 sore. Begitulah kata situs resmi ITB.
Saya cukup kaget. Terlebih yang lain. Bahkan yang tidak mengikuti ujian ITB sekali pun. Beberapa saling berpelukan, menguatkan hati masing-masing. Dan berjuta dekapan erat saya dapatkan dari beberapa sahabat.
"Gue tau lo pasti masuk."
"Apa pun yang terjadi, lo harus ngasih tau gue secepatnya!"
"Kalo lo ga diterima, emang belom jalannya. Masih banyak jalur lain."

Hmm, klasik. Saya lebih memilih diam, tidak berucap. Saya lebih memilih melihat hujan deras siang itu dengan ketakutan saya sendiri. Saya tidak berani menularkannya ke yang lain. Saya pernah bertanya kepada teman saya yang sudah diterima di UGM bulan kemarin, Vicky.
"Vick, gimana rasanya pas lo mau buka? What should we do?"
"Pasrah, tawakal. Serahin semuanya sama Allah. Diterima alhamdulillah, ga diterima ya udah gak apa. Masih banyak cara lain."

Akhirnya saya memutuskan untuk makan siang bersama Rein, Vivian dan Shita di sebuah tempat makan, guna melepas panik. Kami pergi diantar Irvin dan ketika turun dari mobilnya, saya benar-benar ingin memeluknya. Sumpah demi apa pun, detik itu saya benar-benar ingin pelukannya. Tapi itu terhalang karena kondisinya sangat tidak relevan untuk berpelukan.

Kami duduk di sudut, suasana agak ramai saat itu. Saya mencoba untuk terus berpikiran positif dan pasrah. Saya menghabiskan cukup banyak uang untuk memesan makanan. Ya demi menenangkan hati saya ini. Dua jam terduduk disitu, beberapa obrolan konyol terlewat dan obrolan kami semakin tidak terarah. Sedikit-sedikit, kami tertawa. Tak tau tertawa apa yang kami tertawakan dan untuk apa sebenarnya kita tertawa di saat genting ini. Seperti sedang menghirup narkoba rasanya. (Saya belum pernah mencoba, tapi saya sudah melihat reaksi orang-orang ketika menghirup barang haram tersebut)

Sampai akhirnya kami terdiam. Kami tidak seharusnya tertawa untuk saat ini. Belum, dan akan. Beberapa dari kami mulai memperlihatkan kekhawatiran mereka. Vivian seketika menangis saat teman dekat SMP-nya meberi tahu bahwa dirinya tidak diterima. Saya mencoba menenangkan. Raut muka Shita semakin runyam. Rein terdiam.

Kemudian Rein dan Shita mencoba membuka punya Moe, karena Moe tidak dapat mengakses. Saya mencoba mengeraskan volume iPod, saya tidak mau tau, saya tidak mau dengar. Tapi sayangnya saya dapat melihat, melihat mimik Rein dan Shita yang lega. Ya, Moe diterima FSRD ITB.
Saya tidak berani melihat tulisan dari situs itu. Saya tetap ingin membiarkannya sebagai kejutan tersendiri.

Vivian dan Shita makin resah dan ingin segera membukanya di rumah. Tapi saya tidak. Saya ingin ada kedua orang tua saya. Ayah saya saat ini sedang sibuk dan Ibu saya sedang dinas ke Papua yang tidak memungkinkan untuk saya menyusul. Saya ingin sungkem, saya ingin memeluk mereka terlebih dahulu sebelum membuka hasil pengumuman itu. Saya ingin mereka tau, bahwa usaha saya selama ini ada dan nyata, semata-mata untuk mereka.

Tapi akhirnya saya setuju untuk memutuskan pulang. Kami duduk melingkar dan saling berpegangan, memanjatkan do'a untuk keberhasilan atas usaha kami selama ini. Kemudian kami berjalan lunglai keluar dari tempat itu. Berhenti sejenak di depannya, kemudian berpelukan. Ini momen berarti.

Satu jam setelah sampai di rumah, saya masih tidak apa-apa. Sampai akhirnya sms dan telfon dari teman-teman semakin gencar, saya merasa makin beban. Ingin sekali rasanya saya mematikan telefon genggam, tapi saya masih ingin adanya Irvin di inbox saya. Dua jam terlewat hampir membuat saya gila, 20-an pesan pendek membanjiri inbox dan belasan missedcall terpampang di telefon genggam saya. Saya mengirim sms ke ibu, ayah, kakak, kakek dan tante saya, kemudian menelfon eyang saya. Semuanya bilang sudah mendoakan saya yang terbaik. Sholat lima waktu dan tahajud tiap malam demi saya. DANG! Saya menyesal, do'a yang saya panjatkan masih kurang tetapi keluarga saya setengah mati mendo'akan saya. Ironis.
Pikiran negatif mulai menggerogoti saya, saya takut Allah tidak mengabulkannya....

Saya makin merasa takut. Saya berusaha, tapi saya kurang berdo'a. Terlebih lagi saya melakukan banyak dosa yang ayah dan ibu saya larang. Saya takut, dosa-dosa saya sendiri yang menjadi penghalang. Saya takut, benar-benar takut...

Saya menghubungi Irvin. Dan dia benar-benar mampu menenangkan saya saat itu. Dia mengutip sesuatu dari buku "The Secret": apa yang kita pikirkan, akan menjadi kenyataan. Saya belum pernah membaca buku itu, tapi saya sudah tau tentang kehebatan buku tersebut. Dan Irvin kali ini mengingatkannya dan terus mencoba memberikan pikiran positif kepada saya. Untuk sejenak saya mulai bisa berpikiran positif dan optimis. Tapi tidak lagi setelah menutup telefon. Sepi di rumah membuat saya semakin terpuruk. Tiap kali saya mencoba untuk kembali berpikiran positif, selalu saja ada perasaan yang berbisik seperti ini, "Belum saatnya kamu bahagia dan kamu harus tetap kuat dengan hasil terburuknya."
Rasanya seperti ingin berharap jauh tapi tidak bisa, terhalang sesuatu. Malah terbesit, apakah saya pantas di ITB? Terbesit pula trauma seperti saya masuk di 81. Sewaktu hendak mendaftar, 81 bukanlah keinginan saya namun ini keinginan kedua orang tua saya. Pilihan saya sebenarnya ada di SMAN 5 Bandung, tapi saya memilih menuruti orang tua saya. Sehari saya berseragam putih abu-abu, saya merasa 81 itu bukan tempat saya dan saya merasa ingin pindah. Benar saja, 3 tahun disini saya kembang kempis mengejar kurikulum dan aturannya. Saya takut itu terjadi jika saya masuk ITB, padahal sebenarnya saya tidak sanggup mengimbanginya.
Apa memang benar ITB itu tempat saya?
Jika saya diterima, apakah saya bisa bertahan disana?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengganggu di saat saya harus optimis.

Saat ayah saya pulang, beliau bersikap sesantai mungkin dan membesarkan hati saya, seolah beliau tau hasilnya. Saya bilang, saya ingin membukanya besok pagi sesuai permintaan mama. Tak lupa juga saya bilang, saya minta pelukannya menyelimuti malam saya.

Dan pagi ini. Saya bangun dengan perasaan tak karuan dan ayah saya tersenyum di samping saya sambil memberi tepukan semangat. Saya menyalakan perangkat komputer saya satu per satu. Entah mengapa, saya merasa komputer itu berucap untuk tidak menyalakan dirinya sekarang. Mungkin saya sudah gila.

Ayah saya yang sudah siap ke kantor, memeluk saya yang terpaku di depan monitor komputer yang kini sudah mengakses situsnya. Perasaan saya saat itu seketika aneh. Tidak panik atau tidak tegang, malah cenderung semakin datar, seperti mencoba memperingatkan sesuatu. Saya memijit memasukkan nomor peserta saya.

"Sudah siap? ITB ini memang institut yang sulit dan tidak sembarang menerima orang. Jika kamu tidak dapat, Papa tidak apa-apa. Masih banyak jalan lain."

Saya memanjat do'a. Mengucap bismillah dan menekan tombol penetuan tersebut....


Saya terdiam sesaat, suasana hening. Pelukan ayah saya makin erat. Beliau benar-benar menguatkan saya. Ya, saya tidak diterima. Belum.
Ibu saya menelfon dari kejauhan, terdengar sedikit helaan nafas lega dan sedikit kekecewaan. Tangis saya baru pecah saat mendengar suara itu.
"Gak apa-apa. Kalo kamu mau nangis, nangis aja. Tapi jangan berlarut, ini bukan segalanya. You're my tough girl."

Kemudian ayah saya yang sudah di kantor menelfon saya kembali, bertanya tentang keadaan saya. Saya merasa sedikit lebih baik. Entah mengapa saya merasa pantas untuk tidak diterima saat ini. Ternyata perasaan yang menghantui saya selama ini adalah firasat yang mungkin Tuhan kirimkan untuk menangkap saya sebelum jatuh. Saya merasa lebih lega satu penantian saya terjawab.

Kakek dan tante saya menelfon, menyemangati saya. Saya mendengar isak tangis kakek saya. Sedih rasanya, saya merasa saya sendiri yang membuat doa-doanya selama ini menjadi percuma. Dan saya kembali menangis ketika Ibu saya mengirim sms, "Maafin mama ya sayang, waktu itu ga ngebolehin kamu ke UGM atau universitas lain. Bener-bener mama minta maaf dan nyeselin semua itu. Nanti kita obrolin lagi ya.."

Saya menangis sejadi-jadinya. Penyesealan terdalam dari penolakan ini adalah kekecewaan dari keluarga saya, terutama Mama. Sekali lagi, saya berharap Papua itu hanya berjarak 1 kilometer dan saya ingin memeluk Mama.

Pesan pendek dari teman-teman kembali membanjiri. Namun kali ini bukan menanyakan soal keadaan seperti kemarin, mereka mencoba menguatkan dan menghibur saya. Saya bersyukur sekali mereka masih ada disini untuk saya.

Biarkan saya dahulu sejenak ya? Saya janji akan bangkit secepatnya. Namun biarkan saya menikmati "healing time" ini dulu. Oiya, selamat untuk kalian yang diterima di ITB! Tetap semangat untuk yang belum diterima, masih ada banyak cara menuju ITB. USM 2 dan bangku ITB masih menunggu, semangat! :)

Dan hari ini saya ingin menghindar dahulu dari kerumunan. Karena saya tidak mau membawa kesedihan bersama mereka yang semestinya bahagia saat ini. Cukup lagu Dewa - Air Mata yang tampaknya cocok untuk menemani saya.

Air mata yang telah jatuh
Membasahi bumi
Takkan sanggup menghapus penyesalan
Penyesalan yang kini ada
Jadi tak berarti
Kar'na waktu yang bengis terus pergi

Menangislah bila harus menangis
Karena kita semua manusia
Manusia bisa terluka
Manusia pasti menangis
Dan manusia pun bisa mengambil hikmah

Di balik segala duka
Tersimpan hikmah
Yang bisa kita petik pelajaran
Di balik segala suka
Tersimpan hikmah
Yang kan mungkin bisa jadi cobaan

4 komentar:

ayubeany mengatakan...

icul, kurang lebih kita sama. tapi bedanya keluarga lo sangat care, gue jadi iri hehehe. semangat ya icul kita hajar usm 2 dan yg lainnya :D

jopi mengatakan...

aduh cha nangis nih gue :'( semangat ya cha! i'm waiting here...... ♥♥♥

Aisha Sevina mengatakan...

ayy: sabar ya ay, mari berusaha lagi yukk! Ya jangan iri, keluarga lo juga pasti care sama lo dengan cara yg lain, tetep semangat! :)

Aisha Sevina mengatakan...

jopi : Ihhh jo jangan nangiss kan mestinya sekarang lo hepi hepi!
Okey, aku akan berusaha lagi. Like I said before, I'll catch you up jo! Gue mau menggantikan peran yusa sekalian disana :p