Jumat, April 16, 2010

Pagi yang Menusuk

Mata saya samar-samar melihat jam. Hampir pukul 8 pagi rupanya. Saya memegangi kepala saya yang sedikit pusing sambil mengingat-ingat apa yang harus saya lakukan saat ini. Oh ya, hari ini saya harus ke sekolah hanya untuk demi membayar uang muka sebuah jaket angkatan. Bagus, coba tolong digarisbawahi kegiatan bermanfaat sekaligus menyita waktu itu.
Bukan, bukannya saya malas soal jaket angkatan ini, saya hanya malas utuk bergerak di hari yang semestinya menyenangkan ini. Ya, sekali lagi apa yang saya mau tidak terjadi.

Saya menyeret badan saya dnegan malasnya. Menyalakan komputer, menghubungkan iPod kemudian membereskan lagu-lagu lawas yang ada di dalamnya dan menggantinya dengan lagu-lagu yang berarti. Sejam bolak-balik menatap iTunes dan My Music, ibu saya memanggil. Sarapan apa, katanya. Setangkup roti panggang di pagi hari terdengar lezat, jawab saya. Kembali saya menatap komputer ini. Beberapa menit kemudian ibu saya memanggil lagi.
Apa lagi kali ini?

"Sini dong anak Mama sayang. Duduk sini di samping Mama. Kita nonton Tv."
"Iya, sebentar ya Ma."

Aduh, kenapa Mama jadi begitu?

Saya merasa dimanja oleh keibaan beliau. Saya tidak mau. Saya sudah bilang saya tidak apa-apa namun tampaknya beliau belum mengerti. Saya kembali dengan komputer saya. Dan ya beberapa menit kemudian ibu saya memanggil. Namun kali ini disusul dengan suara ayah saya.

Mau tak mau saya berjalan ke arah ruang tengah itu. Seperti biasa, pagi-pagi di hari Sabtu ini jadwal menonton Tv adalah acara masak-masak atau jalan-jalan. Saya duduk di sofa yang paling panjang, sedikit menghindar dari mereka karena saya merasa sesuatu yang tidak enak. Hening. Beberapa saat kemudian, ayah saya membuka pembicaraan. Beliau bertanya, apa rencana saya selanjutnya dan apa yang saya inginkan sebenarnya.

"Aku mau ambil semua kesempatan yang ada sekarang dan yang aku mau itu teknik industri, sipil atau arsitektur dan ekonomi."

Ayah saya kemudian bercerita tentang teman-temannya yang sukses kini. Intinya, PTN bukan segalanya tapi SDM-nya itu sendiri yang menentukan kesuksesan. Ya Papa, tentu saya sudah tau tentang ini.

"Kamu gak mau ITS, Cha? Brawijaya juga kan bagus itu?"
"UGM sekarang Mama bolehin deh Cha.." ujar ibu saya menyahut.

Saya menghela nafas. ITS memang katanya lebih bagus dari ITB. Tapi saat saya melihat presentasi dari mahasiswanya, saya merasa tidak jatuh hati. Brawijaya? Hmm, entahlahh saya tidak tertarik. "Lagian kan Papa bilang, aku bolehnya kuliah di tempat yang masih dekat atau di tempat yang masih ada saudara. Jadi Papa tidak perlu khawatir." jawab saya berargumen.
Saya dulu setengah mati minta UGM karena saya setengah mati pula cinta kota Jogjakarta. Eksotis menurut saya. Tapi ayah saya dulu pernah di UGM dan beliau menilai UGM itu tidak sebagus yang saya kira. Lagipula pergaulan disana juga cukup parah katanya, melebihi Jakarta. Ayah takut saya kehilangan kendali disana. Ya sudah, saya menurut. Saya pikir toh orang tua saya berujar seperti ini demi kebaikan saya sendiri.

Tunggu dulu, teman. Saya bukan tipe yang takut merantau ya. Justru saya i-n-g-i-n sekali merantau ke daerah, merasakan bagaimana hidup sendiri jauh dari orang tua. Saya ingin sekali menyewa kamar kost, memasak sendiri dan merasakan dimana keuangan saya sulit. Saya sudah siap menjadi mandiri. Tapi sayang, karena gender saya adalah wanita dan dalam sejarah saya cukup mengecewakan menurut ayah saya, jadi kedua orang tua saya tidak mau seenaknya melepas saya. Untuk jenjang kuliah, memang saya dituntut : PTN bagus, kalau bisa tidak melebihi perbatasa daerah Jawa Barat atau pilihan lainnya PTN dimana masih ada saudara saya yang tinggal di daerah itu. Dan daerah yang memungkinkan adalah Surabaya.


Kemudian ayah saya malah menyinggung soal masa lalu saya yang terpuruk di 81.
Oh, ayolah Pa! I've already moved on!

"Kamu ini belum konsisten. Di satu sisi, Papa yakin kamu bisa masuk ITB. Tapi di sisi lain, Papa takut kamu tidak bertahan di sana. Coba lihat kemampuan kamu dulu."

DANG! Ini juga yang saya pertanyakan pada diri saya sendiri (ya bisa dilihat di posting sebelumnya). "Ya kalau sudah niat, aku yakin bisa." jawab saya.

"Lalu kamu mau pilih apa di USM 2 nanti? Kamu jangan pilih yang sama kayak kemarin deh. Terlalu tipis passing gradenya."
"Kebumian gak suka?" tanya Ibu.

"Umm, kurang. Tapi ya masih bisa aku terima deh ilmunya. Asal bukan elektro atau hayati."

"SBM? FSRD?" usul ayah kemudian.

DANG! DANG! DANG! Rasanya seperti ditabok 3 orang preman. Kalau ibaratnya saya main dingdong, ini pukulannya sudah combo hit.
SBM? Ya ampun, itu keinginan saya. Saya suka sekali mengatur-atur seperti itu, melayani klien terdengar keren. Saya sudah bilang waktu hendak mendaftar USM 1, saya ingin SBM di pilihan ketiga. Tapi ayah dan ibu saya bilang, bisnis itu lebih baik S2 saja. Takutnya saya tidak bisa mengikuti di umur segini. Ya sudah, saya menurut. Saya tidak memilih itu.

FSRD? Nah ini yang paling nohok. Dari SD memang saya sudah tertarik soal seni, apalagi melukis. Kemudian di awal SMP, saya mulai merambah ke program desain karena dalam benak saya, saya ingin menuju desain grafis ITB. Alhamdulillah banyak yang bilang gambar tangan saya cukup bagus dan desain yang saya buat cukup bermanfaat untuk keperluan umum sampai SMA. Ya memang masih amatir sih sebenarnya. Saat saya ingin meletakkan FSRD di pilihan ketiga, ayah ibu saya berargumen begini:
"Seni itu bisa diasah sendiri. Seperti yang kamu lakukan selama ini, otodidak. Tidak usah sekolah formal untuk urusan ini. Lagipula kalau sekolah teknik, lebih luas daya lingkup kerjanya."

Saya sempat marah. Kenapa tidak boleh? Kenapa harus begitu?
Saya bertanya-tanya, melihat-lihat kondisi orang lain. Enak sekali mereka-mereka yang bisa memilih jurusannya sesuka hati sesuai hobi, minat dan bakat. Saya iri.

Kemudian saya mendapatkan jawaban yang saya simpulkan sendiri: Jangan jadikan hobi sebagai profesi utama. Karena hal itu akan menjadi hal yang membosankan. Hobi ya tetap hobi.
Setelah saya pikir-pikir juga, saya ini tidak kreatif-kreatif amat. Saya ini terlalu metodik, saya selalu berpikir bertahap dan tidak bisa nyeleneh sebagaimana seniman pada umumnya dan seharusnya memang nyeleneh. Mempunyai sudut pandang lain, tanpa berpikir aturan apa pun, hanya mementingkan keindahan makna dan estetika. Seharusnya begitu. Sayangnya saya tidak
Sejak itu, saya menganggap alasan ayah dan ibu itu masuk akal.

Hal yang menyesakkan kembali datang, menganggu keteguhan hati saya saat itu. Hasil psikotes saya menunjukkan bahwa saya cocok di bagian teknik industri, arsitektur dan.... DESAIN KOMUNIKASI VISUAL. Tingkat kreativitas saya juga dianggap cukup tinggi oleh sang psikolog.
Kemudian setiap kali saya bertemu teman di lingkungan luar, mereka selalu bertanya "Cul mau masuk apa? FSRD deh pasti ya? Lo kan cocok banget disitu."

Sekarang ayah saya malah menawarkan dua jurusan yang dulu saya minati setengah mati itu di saat saya sudah menguburnya, di saat saya memilih keinginan beliau: teknik.
Saya mengutarakan ucapan ayah saya yang pernah beliau ucapkan dulu bahwa seni itu bisa otodidak. Namun apa kali ini jawabannya?
"Kan lebih bagus lagi kalau ada yang mengarahkan."


Sa-kit.

Tidak ada komentar: