Sabtu, Oktober 25, 2008

24, Angka Sakral- bagian pertama

"Senang, riang, hari yang ku nantikan"

Ya itulah penggalan lagu Sherina ketika masih chubby, berandai menjadi dewasa dan idola semua masa.
Penggalan lagu itu menggambarkan saya di tanggal 24 Oktober.

24, berakhirnya ujian. Saatnya melempar buku sejenak dan menghempaskan otak dalam kesenangan.
24, hari bertemu saya dengan PiC.

Keluar kelas, saya melompat kegirangan. Selesai juga perjuangan saya, tentunya perjuangan yang bukan dalam arti sebenarnya. Perjuangan saya adalah menggunakan kesempatan yang ada untuk berbagi jawaban dan terkadang merampok jawaban. (maaf dan terima kasih, kawan!)

Teman-teman saya hendak ke rumah Sita untuk latihan dance dan saya tidak bisa ikut.
Mereka memutuskan naik taksi untuk kesana.

Teman 1 : "Udah, lo ikut aja kita naik taksi sampe Kapin, si Utie juga kok."
Saya : "Oh, yaudah huehehehe."

Saya melakukan hal cukup tolol selama mencari taksi dan cukup teman-teman saya saja yang merasakan sepenuhnya.

Saya menyapa setiap angkot yang lewat dengan nyanyian, tarian dan kata sapaan yang umum di buku bahasa inggris anak SD.
Banyak yang bingung, kaget a la oh-my-God dan saya tetap masa bodo, toh ini ekspresi senang saya, yang ternyata banyak direkam oleh handphone Sita dan rencananya akan dipajang di Youtube. Semoga tidak.

Sita : "Wah ada adek gua tuh di angkot!"

Saya langsung berlari, menyebrang jalanan Kalimalang yang padat mengejar angkot itu sambil berteriak, "Achaaa, Ekaaa, mama kan udah bilang, maghrib tuh pulang!"

Freak emang. Udah manggil namanya salah lagi (di postingan sebelumnya), sok akrab dan itu belom maghrib juga.

Tak lama, taksi kosong pun datang. Susah sekali nyari taksi kosong. Sebelumnya ada, saya berhentikan dengan gaya yang aneh. Supirnya cuma nengok, lalu kabur. Dikiranya saya bercanda doang kali yah. Buset dah dikasih rezeki lewat saya, gak mau.

Saya masuk duluan dan duduk di kanan.
Teman : "Lah Cul, lo kan turun pertama, jadi di kiri dong?"
Saya : "Oh iya ya hehe, Utie berarti juga dong ya, sebelah gua." (sembari keluar dari taksi)
Utie : "Loh, gue kan ikut ke rumah Sita."
Saya : "LAH BILANG DONG DARITADI!"

Saya menutup pintu taksi yang sudah penuh itu, lalu ngedumel sendiri. Terlalu sumpek ternyata kalau saya memaksakan diri untuk ikut.
Lalu saya langsung naik angkot di belakangnya. "Naik angkot istimewa ku duduk di muka, ku duduk samping pak supir yang sedang bekerja.
Tuk tik tak tik tuk."

(Yah ga mungkinlah bunyi angkot kayak gitu.)

Saya : "Ayok bang, kita pulang!"
Supir angkot : "Sabar neng, emang mereka bukan sahabat. Bukan temen yang bisa diajak susah, bla bla bla..."

Wah si Supir yang melihat saya naik turun taksi ini kayaknya salah sangka deh. Mungkin dikiranya saya diusir dan disuruh naik angkot. Astaga mak. Ga rela saya, dia mencerca teman-teman saya. Saya pun mengubah topik daripada diceramah lebih jauh.

Saya : "Wah Jakarta panas ya, padahal mendung."
Supir angkot : "Mau ujan nih neng. Namanya juga ujian, kita harus sabar, bla bla bla..."

Ngepet! Bacot bet bacot. Saya akhirnya cuma iya-iya saja sampai akhirnya dia diam dan voila, saya turun dari angkot. Fyuh.


Bersambung,

Tidak ada komentar: