Jumat, Oktober 24, 2008

Proses Persiapan

Minggu ini saya dilanda ujian. Dan saya yang berada di jurusan IPA dengan otak yang tidak memadai ke jurusan yang pernah ada, merasa sangat terpuruk. Kegiatan di kelas ya kalo ga tidur, ngegosip dan yang paling hebat juga ya memegang buku. Ditambah lagi, kelas saya mendapatkan 1 paket guru yang tidak mempunyai bakat mengajar (kecuali matematika). Akibatnya, pelajaran tidak ada yang saya kuasai, terutama yang berhubungan dengan alam.
Sungguh parah. Hanya merasa menyampah.

Saya melakukan persiapan kebut.
Hari Sabtu, saya menghadiri belajar bareng di rumah teman namun seperti yang saya duga, kebanyakan diisi dengan guyonan.
Ketika sedang bermain sambil belajar, adik kembar yang empu rumah pulang. Saya dengan sok ramah menyapa, "Acha! Eka!".
Mereka diam saja tidak menengok dan ngeloyor masuk rumah. "Ah, dasar pemalu", pikir saya.

"Kok Acha Eka sih? Kan Echa Aka mestinya. Masa nama adeknya jadi kayak cewek sih!" kata teman saya.

Oh pantes ga nengok. Tapi tetep aja kalo saya menyebut nama mereka dengan benar, ga bakalan nengok. Ah, dasar pemalu.

Lalu terjadi hal tolol saat mengobrol tentang study tour.
Teman 1 : "Wah ntar anak Sos ke Bali ya?"
Teman 2 : "Iya rencananya sih."
Teman 3 : "Eh masa ada yang bilang, study tour itu ga boleh keluar Jawa, jadi kemungkinan ntar di Sumatra."
Saya : "Huahahaha! Emang siapa yang ngomong gitu?"

Teman 3 langsung melirik teman saya yang dari tadi sudah ngedumel dan langsung membela diri. Tawa semakin meledak.


Esoknya, saya mengikuti les di rumah teman.
Ruangan sudah ramai dengan teman-teman dan tinggal menunggu guru panggilan.
Saat yang dinanti datang, semuanya langsung antusias bertanya. Berhubung yang ikut les ini merasakan nasib yang sama. Guru tersebut berparas manis, bertutur kata halus, tidak berjakun, dan berkerudung. Saat ada yang menanyakan suatu soal yang cukup sulit, guru tersebut kesulitan sendiri.

Saya bengong, memandangi begitu banyaknya rumus yang harus saya tulis untuk contekan (pada akhirnya tidak ada yang saya tulis), lalu lamunan saya terbuyarkan oleh kata-kata, "OW SHIT!" dari mulut sang guru.

Ya pada umumnya, kalau berkerudung itu kan tidak berkata sarkasme ya. Dalam pandangan saya sih, kalau sudah berkerudung itu sudah siap dan harus menjaga sikap termasuk ucapan. Hmmmm...

Tidak ada komentar: