Kelas 3 SMA, satu semester sudah saya lewati. Mulus? Tentu tidak.
Saya yakin besok nilai tryout saya mengecewakan dan nilai-nilai rapot saya di standar 'tuntas'.
Otak saya belum siap nyatanya. Padahal saya sudah mengatur pikiran saya untuk memprioritaskan belajar. Tapi otak saya masih menyangkal bahwa keadaan kelas 3 SMA tidak sama dengan kelas 3 SMP.
Tiap harinya saya hanya menghela nafas, bangun dini hari dan mengetahui bahwa keadaan senior di SMA tidak sama dengan SMP. Tidak jarang saya mengalami mimpi buruk. Apalagi seusai psikotes. Saya bermimpi mendapatkan hasil psikotes yang buruk, IQ di bawah rata-rata dan semua fakultas yang disarankan tidak cocok dengan minat saya.
Mengerikan. Mengerikan mengetahui bahwa saya tidaklah "secermelang" dulu.
Saya mencoba untuk menjadi 100%, menjadi seperti dulu. Tapi saya lihat sekeliling, orang lain sudah lebih dulu siap tempur, mereka sudah hampir di 120% mereka. Kenyataan yang saya lihat bukan saja dari kandang sendiri, saya melihat rival-rival saya itu di tempat bimbel saya yang memang muridnya heterogen. Saya langsung berkaca. Aih, materi semester ini saja saya belum menguasai seluruhnya. Apalagi materi 3 tahun. Saya terlalu memperdulikan orang lain? Ya, mungkin.
Jujur saja, saya sedang merasa kalut dan ciut. Saya merasa terlalu hampa untuk mengejar mimpi saya. Pesimis menyerang lagi tampaknya.
Kemarin saya melihat segerombol anak SD dengan ransel besarnya, bersemangat sekali ke sekolah dan menceritakan mimpi mereka. Saya merasa seperti saya dahulu. Saya yang dulu punya banyak mimpi dan target untuk dicapai dan untuk dibanggakan nantinya. Saya pernah mernagetkan diri untuk mengikuti olimpiade, menjadi anak akselerasi, mengikuti AFS dan menjabat sebagai pengurus OSIS. Dari target-target yang ada, saya hanya bisa mengikuti Olimpiade Fisika sampai seleksi kedua (karena orang tua saya tidak mengizinkan). Selebihnya, target-target itu sudah saya pendam terlebih dahulu. Kesempatan menjabat pengurus OSIS dan mengikuti program AFS, saya lewatkan. Saya hanya mengambil formulirnya saja. Sifat pesimis saya terlalu mendominasi saat itu.
Sekarang, saya menyesal.
Target jangka panjang yang pernah saya buat adalah diterima di ITB. Dan saya tidak mau menyesal untuk kesekian kalinya. Saya mau berbangga memakai jaket biru tua itu. Saya mau!



Terkadang saya berharap, mungkin saja ada keajaiban dari Tuhan yang bisa mengantar saya diterima di ITB. Tapi setelah saya tilik lagi, mana mungkin Tuhan memberikan kuasa-Nya ke hamba yang malas seperti saya? Yang acap kali jarang bersujud, mengucap nama-Nya, tidak berusaha dan hanya bisa berharap masuk ITB. Mereka (rival-rival) saya sudah bersusah payah, bersembahyang, puasa dan mengucap do'a. Mereka sudah lebih dahulu berpeluh, sedangkan saya hanya bisa mengeluh.
Dan Tuhan pasti akan membayar kepada mereka yang berpeluh kan?
Saya kembali merasa ciut.
Saya butuh semangat, bukan pesimisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar