Jantung saya berdegup berlebihan dan muka saya memerah karena jerawat, pertanda hormon saya sedang tidak stabil. Pertanda stress mendekati 8 November. Mana tugas bejibun pula dan duit saya sudah mendekati ajal sebelum gajian lagi.
Ada apa dengan Sabtu, 8 November?
Hari itu adalah tanggal ulang tahun PIC saya tersayang. Saya ingin memberikan sesuatu yang berkesan dan H- ini adalah hari yang melelahkan. Senin, Selasa, Rabu terlewati dengan semedi. Saya akhirnya tahu apa yang harus saya berikan nanti.
Kamis, H-2
Guna menghemat uang, saya hari ini mengendarai motor. Padahal saya sedang males disangka macho. Tapi apalah dikata, rupa dan jakun mendukung untuk itu (maaf ngelantur). Sepulang sekolah saya langsung membawa lari motor saya, menuju supermarket. Saya ingin membeli bahan-bahan kue. Ya, kue! Saya ingin membuat kue asli buatan saya sendiri, berhubung juga saya punya hutang masak padanya. Urusan memasak, saya memang tidak terlalu bisa. Terlebih membuat kue. Tapi ya modal nekat saja.
Bahan-bahan kue sudah di tangan, saya kembali memacu motor saya. Saya menguber waktu, ingin cepat-cepat membuat kue. Karena kalau nanti malam gagal pun, setidaknya ada besok untuk mencoba lagi. Jadi saya ngebut, menghajar semua medan jalan dan semua polisi tidur. Padahal saya membawa bahan-bahan kue yang salah satunya adalah telor. Karena perihal ngebut itu, saya 2 kali hampir ditabrak dan 1 kali hampir menabrak.
Sampai di rumah, saya langsung mengecek keadaan telur-telur itu dan semuanya sehat walafiat. Baru menginjak rumah, saya teringat untuk beli kado. Yasudah, saya hanya sempat menaruh belanjaan dan kembali berkelana, tentu saja dengan kecepatan tinggi lagi. Sepintas saya berharap menjadi The Flash sekejap dan hal sepintas itu membuat saya hampir ditabrak lagi.
Saya berencana memberi kado berupa sketchbook yang bisa diisi ulang. Karena dia suka sekali menggambar, sampai-sampai box Telkom menjadi sasaran. Dan toko buku terdekat yang menjual sketchbook itu ada di Galaxi. Itu cukup jauh dari rumah saya dan itu juga sudah yang paling dekat dibandingkan toko lain.
Saya agak lupa persis tokonya dimana, jadi saya sempat tersasar. Saya muter-muter dan bertanya-tanya kepada orang sekitar. Ternyata toko buku itu sudah saya lewati 2 kali daritadi. Saya memarkir motor saya seenak jidat dan kilat masuk ke toko. Melihat banyaknya karton, saya jadi terpikir untuk membuat kartu ucapan. Saya bersyukur ide cerdas ini masih bisa terpikirkan di kala saya stress.
3 karton merah, kuning, hijau dan sebuah sketchbook saya beli tanpa plastik (ayolah saudara, mari kurangi palstik). Keluar toko, cuaca mendung. Membuat saya semakin ingin buru-buru pulang. Tancap gas!
Begitu sampai rumah, saya berjalan gontai menuju sofa dan tak lama kemudian, ambruk. Gagal-lah rencana saya ingin membuat kue malam itu. Sempat sih bangun sebentar hanya untuk mandi lalu tidur lagi.
Jum’at, H-1
Esoknya, saya cabut karena teman-teman dance saya akan berlomba di Piastro dan saya berambisi menjadi best supporter bagi mereka. Tapi sebelum itu, saya heboh menimbang tepung dan bahan lainnya untuk membuat kue. Bukan kue tart karena itu susah sekali dan oven saya berada di Bandung, jadi saya membuat bwonies kukus. Ya yang penting kue lah. Hanya dengan resep dan modal nekat , tanpa pengalaman saya berusaha membuat kue. Grasa-grusu dan terburu-buru tentunya, karena jam 12 saya sudah harus berangkat.
Tololnya, saya baru ingat bahwa saya tak punya loyang bulat kecil yang muat untuk di kukusan dan pembuka kaleng saya raib entah kemana. Jadi saya meminjam tetangga sebelah (terima kasih, Tante!). Saat menuang tepung ke dalam mixer, saya tak sengaja menekan tombol yang menjadikan mixer berputar dalam kecepatan penuh. Otomatis tepung itu berterbangan mengenai wajah saya. Saya pun panik dan tidak sengaja menyentuh telur dan telur itu bergelinding… kemudian pecah 1, saudara-saudara! Almarhum telur itu termasuk korban dari demo masak ini. Korban lainnya adalah panci yang luka-luka karena gagangnya patah dan tutup kukusan yang bonyok karena jatoh penyok. Ikhlasin aja deh.
Saatnya mengukus. Di resep tertulis dikukus selama kurang lebih 25 menit. Baiklah saya tunggu sampai 25 menit kemudian tidak matang-matang juga. Okelah, di resep kan tertulis kurang lebih. Saya tunggu sebentar lagi. 20 menit kemudian saya cek menggunakan tusuk gigi, masih agak lembek di dalam tapi sisi luarnya sudah mulai mengering. Takut gosong, saya memilih menyudahi acara mengukus ini dan mengalokasikan ke kulkas. Saya bergegas ke Bulungan.
Setelah saya hampir diamankan panitia Piastro karena terlalu hiperaktif (ini sungguhan) dan setelah kunci rumah saya sempat hilang, akhirnya saya pulang dan mendapati Mama saya sudah mengomel karena dapur yang berantakan tadi belum sempat dibereskan. Fyi, mba saya sedang bertugas mengasuh kakak saya di Bandung dan mba saya yang lainnya belum pulang kampung, alhasil saya lah yang diperbudak.
Kemudian saya mulai berkreasi hingga larut malam membuat kartu ucapan yang cukup besar, 2 halaman A3. Halaman pertama penuh ucapan dari saya halaman berikutnya penuh dengan warna merah kuning hijau yang berhiasakan ucapan selamat dari teman-teman saya. Tapi itu belum selesai…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar