Beberapa minggu lalu, akhir pekan saya sedikit rusak. Sudah bagus tadinya saya dan ibunda menghabiskan uang monopoli di Plaza Senayan, nyeh tiba-tiba Eyang menelfon. Beliau minta ditemani ke acara lamaran saudara jauh. Sebagai menantu dan cucu kesayangan, saya dan mama nurut saja.
Tiba di rumah saudara tersebut, saya agak linglung. Saya bingung ini saudara siapa, saya saudaranya siapa dan siapa saudara? Langsung saja bertingkah sok kenal.
Sang pelamar datang bersama rombongan, membuat sesak. Agak lucu juga saat acara dimulai, ada tabrakan lawak antara adat Jawa, Sunda, dan Manado. Yang saya bingung, tamu-tamu itu tertawa saat dari pihak yang dilamar menggunakan guyonan khas Jawa, padahal mereka orang Sunda. Begitu juga sebaliknya. Basa-basi banget dah acara formal ini.
Sesi seserahan dan makan-makan selesai, saatnya berpesta! Kursi-kursi disingkirkan, keyboard bermain nada, mari bernyanyi dan berdansa!
Dari yang balita sampai yang nenek-nenek, dari yang kafir sampai yang guru ngaji, semuanya berdansa dengan penuh gairah.
Dari lagu-lagu Frank Sinatra sampai Paul Anka, dari lagu romantis sampai lagu dansa, dari lagu “I Love U Bibeh” yang kemudian disambung lagu senam poco-poco, semuanya sangat menyenangkan! Membuat kaki ingin melangkah dan membuat badan ingin bergoyang.
Sang penyanyi tiba-tiba mengajak (tepatnya memaksa) saya untuk menyanyi. Saya pikir bercanda, ternyata benar saja, tiba-tiba saya sudah memegang mikrofon dan disuguhi teks lagu “Love”.
Penyanyi : “Ayo dong nyanyi, ntar bareng saya deh kalo adek masih malu. Yuk nyanyi yah! L… is for the way you look at me…”
Saya : (mengangguk tegang) “L… is for the way you look at me… O is for the only one I see… V is very, very extraordinary… E is even more than anyone that you adore can…”
Loh loh tunggu dulu, suara saya mana? Kok yang terdengar suara sang penyanyi saja? Tidak pantaskah suara saya untuk diperdengarkan?
Oh, ternyata mikrofonnya dalam keadaan OFF.
Setelah saya menyalakan mikrofon, saya kembali bernyanyi dengan sumbangnya.
Ketika saya pamitan dengan Om saya, si Om menepuk pundak saya dan tersenyum ke Mama saya.
Om : “Eh, anakmu pinter nyanyi juga. Lain kali kalo ada acara, suruh nyanyi lagi ya!”
Saya senyum mesem, ga yakin. Dia denger suara sayanya saat mikrofon ON atau OFF?
Entah.
1 komentar:
ah muji itu sih formalitas aja cul hahaha. canda. bagus kali suara lu
Posting Komentar